Moneyball: Siasat Spesialisasi Tim-Tim Menengah ke Bawah

Rasmus Ankersen Brentford
Otak Manajemen Brentford, Rasmus Ankersen (kiri). Foto: The Times UK.

Sebuah perhitungan angka akhir-akhir ini telah menjadi primadona baik dalam ekonomi setelah koin crypto mendapatkan kenaikan yang signifikan dan menjadi tren baru dalam pasar uang.

Trading hingga saham masih menjadi pilihan bagi beberapa orang dalam situasi pandemi ini. Meski begitu, ternyata sebuah perhitungan angka untuk mendapatkan keuntungan dilakukan pula bahkan dalam sepakbola di era modern ini.

Sebuah perhitungan mendetail jadi andalan bagi tim yang tidak memiliki biaya besar.

Hal ini juga pastinya menekankan keakuratan statistik, begitu pula yang dilakukan tim asal Inggris yang akan promosi ke Premier League setelah kandaskan rival asal Wales, Swansea City di Final Play-Off.

Bacaan Lainnya

Apa Itu Moneyball?

Pada dasarnya, moneyball adalah sebuah ide radikal menggunakan angka dalam mengatasi keuangan pada suatu tim ataupun menjumlahkan dan mengolah angka statistik agar mendapatkan kemenangan.

Konsep ini pertama kali digunakan pada olahraga softball, Amerika. Persis seperti dalam film Moneyball yang diperankan Brad Pitt, dimana dirinya harus memanajeri tim dengan batas gaji pemain namun harus mencapai target yang dimiliki oleh para pemilik klub.

Di film tersebut dijelaskan bahwa tim MLB yang diceritakan adalah Oakland Athletics. Mereka bekerja sama dengan Peter Brand, lulusan sekolah ekonomi, untuk mengurusi kesulitan keuangan dalam tim.

Baca Juga: Panas! Bursa Transfer Pemain Musim Panas

Maka tidak heran dalam liga softball di Amerika sana, banyak atlet softball yang miliki badan kurang atletis. Bukan tanpa bakat.

Baca juga:  Vlahovic dan Mitrovic: Duet Maut Lini Depan Timnas Serbia

Dalam olahraga tersebut, mereka dilatih memainkan posisi tertentu saja seperti batter (pemukul),  catcher (penangkap), dan pitcher (pelempar) bola.

Hal ini, pada era modern ini, dengan canggihnya teknologi yang ada, cara moneyball mulai diadaptasi klub-klub sepakbola

Liburnya sebuah kompetisi biasa dimanfaatkan semua tim sepakbola eropa untuk berbenah menghadapi musim selanjutnya.

Semua tim diizinkan untuk membeli pemain baru agar mencapai target yang diharapkan. Meski begitu, tidak banyak klub-klub Eropa yang memiliki kekuatan finansial berlimpah untuk membeli pemain incaran mereka.

Hal ini membuat beberapa tim mengakali kebijakan transfer. Mereka bukan hanya mempromosikan pemain tim akademi, namun juga melakukan scouting (pemanduan) pada beberapa pemain yang memiliki keahlian tertentu.

Tentu, guna penuhi kekurangan budget transfer yang diperlukan tim mereka.

Mereka, Para Penerap Money-Ball

Brentford Playoff Champion
Brentford, Pemenang Play-Off Championship 2020/21. Foto: Eurosport.

Brentford FC

Tim yang musim depan mulai berlaga di Premier League ini sangat ditunggu aksinya oleh para analis bola Inggis. Mengapa?

Salah satu alasannya adalah konsep moneyball yang sudah mereka lakukan selama bertahun-tahun. Diarsiteki oleh wakil eksekutif tim asal Denmark, Rasmus Ankersen, yang pada dasarnya adalah seorang konsultan yang tak miliki dasar ilmu sepakbola.

Meski begitu, keahliannya dalam melakukan konsep ini sudah menghasilkan banyak pemasukan untuk tim dari penjualan pemain yang mereka lakukan seperti (seluruh transaksi dilakukan dalam mata uang poundsterling): Neal Maupay (dibeli 2,5 juta, dijual 18 juta), Chris Mepham (gratis, 12,2 juta) Andre Gray (550ribu, 11 juta), Scott Hogan (750 ribu, 9,5 juta).

Meski menjual pemain-pemain vital, tim mereka tetap tunjukkan performa stabil.

Baca Juga: Community Shield, Selamat Datang Liga Primer Inggris

Terbukti, tim mereka mampu bersaing di Play-Off Promosi dan memenanginya. Sebab, pada dasarnya, konsep moneyball ini memiliki senjata analitik yang berdasar pada perhitungan persentase keberhasilan mereka dalam meraih kemenangan atau memanfaatkan keahlian pemain tertentu

Baca juga:  Kunci Kemenangan Real Madrid atas Barcelona

FC Midtjylland

FC Midtjylland
FC Midtjylland. Foto: Footy Fair.

Pada dasarnya, konsep moneyball adalah alternatif untuk mencapai target di lapangan dimana apabila tim anda tidak memiliki banyak bintang dengan keahlian yang banyak maka tim anda hanya perlu memerlukan pemain yang bisa menguasai posisi tertentu.

Berbeda dengan tim asuhan Pep Guardiola yang biasanya memiliki pemain versatile atau bisa bermain di beberapa posisi. Bahkan, seorang kiper harus bisa mengalirkan bola ke depan.

Taktik yang cocok dengan tim moneyball terbilang lebih ke arah permainan pragmatis untuk meraih kemenangan. Misalnya dengan memanfaatkan persentase hal tertentu seperti misalnya 80% penyerangan dari sayap kanan lebih sering menciptakan gol dibandingkan sisi sebelahnya atau misalnya di tengah.

Maka akan tidak aneh apabila tim-tim tersebut memiliki gaya yang monoton dari satu sisi saja karena biasanya tim-tim moneyball ini memanfaatkan gaya yang berulang untuk memecahkan persentase keberhasilan mereka.

Pernah lihat sebuah statistik sebuah pertandingan? Baik dari media atau platform tertentu, tentang angka-angka capaian perorangan atau heatmap sebuah tim.

Pada FC Midtjylland, ini disusun oleh Rasmus melalui perhitungan yang terjadi dalam lapangan, bukan hanya tentang perhitungan finansial saja.

Pencapaian tertinggi tim yang baru berdiri tahun 1999 ini adalah mengalahkan Manchester United di fase Knock-out Liga Europa pada leg pertama.

Meski akhirnya MU bisa balikkan keadaan pada leg kedua, kiprah moneyball FC Midtjylland mendapat lampu sorot seantero Eropa saat itu.

Ya, perhitungan persentase berapa kali gol di cetak dari sisi mana kadang berbanding lurus dengan penguatan investasi di posisi tersebut misalnya sayap kanan menjadi andalan tim moneyball maka mereka akan serta merta membawa permainan ke posisi tersebut.

FC Porto

Porto Champions League
The Dragon – FC Porto. Foto: Beinsports.

Untuk keperluan penelitian ini, semua data yang dikumpulkan dan dianalisis terbatas pada lima belas musim terakhir, dari 2002/03 hingga 2016/17.

Baca juga:  Adakah Profesi Pesepakbola Berumur Panjang?

Data tersebut menyangkut posisi Porto di Liga Portugal dan poin yang mereka kumpulkan selama rentang musim di atas. Hanya data dari musim reguler Primeira Liga yang dikumpulkan.

Baca Juga: Medley Bailey – Grealish – Azmoun

Selanjutnya, peneliti mengumpulkan dan menganalisis (untuk musim yang sama) data tentang analisis ekonomi Porto berfokus pada pemain yang dibeli dan dijual.

Akhirnya, bagian terakhir dari metodologi adalah analisis monster yang pada akhirnya pencapaian tertinggi mereka adalah menjuarai Liga Champions 2004 dan sempat disangka cara yang mereka gunakan adalah cara yang curang namun hingga sekarang penyelidikan UEFA terhadap Porto tidak memiliki bukti yang kuat bahwa cara ini adalah cara yang curang dalam memenangkan suatu kompetisi.

Gilang Nugraha

***

Anda suka menulis tentang sepakbola, kirim tulisanmu ke AnalisBola.com dan baca ketentuannya di SINI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *