Liverpool vs Manchester City 1-4: Bukan Hanya Tentang Alisson dan Salah

Liverpool vs Manchester City
Mohamed Slah - Liverpool. (Foto: Worldfottbalindex.com)

Liverpool – Liverpool rontok di kandang sendiri dalam dua pertandingan berturut-turut. Selang tiga hari setelah ditundukkan Brighton & Hove Albion, The Reds kembali takluk, kali ini di tangan Manchester City.

Anfield tak lagi angker? Jelas, akibat Covid-19 semua kandang sepertinya tak lagi menakutkan bagi tamu.

Sedikit unggul penguasaan bola, 55:45, Liverpool malah kebobolan empat gol. Satu-satunya gol Liverpool diciptakan melalui titik penalti oleh Salah.

Baca juga: Si Protagonis Gerrard: Kapten Sejati, Tragedi Pilu dan Cinta yang Abadi

Bacaan Lainnya

Pengamat dan fans lantas mendudukkan kiper Alisson Becker sebagai tersangka utama akibat dua blundernya dan cenderung mengabaikan buruknya pemain lain.

Klopp sendiri mengatakan anak asuhnya keletihan saat dikalahkan Brighton. Tertinggal 0-1 di pertandingan itu, Liverpool tak mampu menyarangkan gol balasan dalam 34 menit setelahnya plus injury time.

Pun demikian, pemain-pemain yang dianggap kelelahan itu kembali diturunkan menghadapi Manchester City kecuali Mane, Jones dan kiper Becker. Jones kemudian digantikan Milner yang starter saat melawan Brighton. Pasukan Klopp itu hanya mampu bertahan selama 49 menit sampai rebound Gundogan membuka skor.

Baca juga: Ben Davies Calon Bek Masa Depan Inggris

Awal babak kedua, Liverpool sebenarnya melakukan tekanan cukup baik hingga akhirnya Salah dijatuhkan di kotak penalti. Alih-alih mendapat angin segar untuk membalikkan keadaan, serangan Liverpool justru kurang greget sehingga Klopp mencoba memperbaiki keadaan dengan mengganti dua gelandangnya sekaligus. Thiago dan Jones digantikan Shaqiri dan Milner di menit ke-68.

Baca juga:  Leicester vs Man City 0-1: De Bruyne Jadi Penentu Kemenangan The Citizen

Prahara memang datang di gol kedua City. Sepakan rendah Becker mengarah pemain lawan. Kesalahan serupa kemudian dilakukannya lagi tiga menit berikutnya dan dua-duanya berakhir dengan gol bagi City.

Namun bukan tanpa sebab. Kesalahan Becker itu bisa terjadi akibat pressing yang kuat dari pemain City. Bek-bek Liverpool yang tertekan, berulang kali mengembalikan bola kepada Becker, bahkan setelah gol ketiga City dimana kondisi psikis AlissonBecker sudah jatuh.

Tusukan-tusukan ke kotak penalti dengan operan pendek yang direncanakan Pep Guardiola memang membuahkan hasil. Pemain belakangan Liverpool kebingungan dan Becker kehilangan konsentrasi. Komentator pertandingan menyebut-nyebut gaya tiki-taka yang dulu terkenal di Barcelona.

Baca juga: Liga Inggris: Nestapa di Balik Kemenangan Liverpool

Sebaliknya, barisan depan Liverpool minim kreativitas dan terkesan kehabisan tenaga. Peluang yang didapat Salah, yang kemudian menjadi tendangan penalti itu, pun bukan lahir dari skema serangan terencana melainkan aksi individu Salah memanfaatkan kesalahan Ruben Dias. Taktik gegenpressing Klopp tak berhasil ditampilkan.

Lewat menit ke-60, Firmino dan Salah sering terlihat kalah cepat dengan pemain City. Hanya Sadion Mane yang masih terlihat cukup kuat bertarung. Tak heran situs Whoscored memberi nilai 6,64 bagi Salah. Ia hanya melakukan 39 sentuhan, 2 tembakan, dan nihil operan kunci. Angka yang tak jauh berbeda pun diperoleh Firmino dan Sadio Mane.

Tembakan keras Phil Foden di menit 83 semakin meluluhlantakkan Becker yang sudah terpuruk dengan dua gol sebelumnya. Namun kembali perlu dicermati bahwa tembakan keras Foden dari jarak dekat itu bisa terjadi akibat kegagalan Robertson menghadang Foden. Begitu pun terjadinya gol ke-2 dan ke-3. Gundogan dan Sterling benar-benar berdiri bebas di mulut gawang, jauh dari kawalan pemain The Reds.

Baca juga:  Aston Villa Vs Man City 1-1: Bailey Tunda Kemenangan Citizen

Kurangnya kreativitas dan kegarangan pasukan Liverpool dalam dua partai terakhir patut diduga akibat kondisi fisik dan psikis yang melemah. Kedalaman skuad yang coba dibangun Liverpool dengan perekrutan beberapa pemain yang sebenarnya sudah matang, tampaknya terganggu oleh badai cedera, COVID-19, proses adaptasi, serta ketidakcocokan karakter pemain baru.

Musim ini Salah memang disebut-sebut underrated. Apakah ia mencapai titik jenuh karena keletihan? Performa Salah seakan-akan selalu berbanding lurus dengan performa Liverpool padahal sepakbola dimainkan oleh sebelas orang plus kelihaian manajer dalam mengelola. Liverpool bukan hanya tentang Becker dan Salah. Mereka adalah pahlawan tetapi bukan robot.

Bergman Siahaan
Facebook | Instagram | derau.net

***
Ingin menjadi Penulis diĀ AnalisBola.com, Silakan hubungi kami melalui email: analisbolacom@gmail.com

Anda suka menulis tentang sepakbola, kirim tulisanmu ke AnalisBola.com dan baca ketentuannya di SINI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *