Lampard Tumbal di Balik Trennya Legenda Klub Menjadi Pelatih

Lampard Dipecat Chelsea
Lampard Dipecat Chelsea. Foto: (NDTV Sports)

AnalisBola.com – Tidak banyak pemain sepak bola yang kemudian sukses menjadi pelatih ketika membesut mantan klubnya. Semakin mencarinya kita akan sedikit sekali menemukan nama-nama yang muncul.

Kita mungkin mengenal Johan Cruijff yang mempopulerkan tiki-taka di dalam permainan Barcelona. Kemudian ada Guardiola yang juga sukses besar di Barcelona dengan meneruskan warisan tiki-taka ini.

Bersama Barcelona, Guardiola mampu mendulang semua tropi yang ada. Messi menjadi bintang. Xavi dan Iniesta didapuk sebagai jenderal lapangan tengah yang disegani dan sangat solid. Karir Guardiola sebagai pelatih bahkan lebih moncer ketimbang menjadi pemain itu sendiri.

Baca juga: Thomas Tuchel Target Utama Pelatih Baru Chelsea

Bacaan Lainnya

Selain kedua nama itu, kita mungkin masih bisa menyebut pelatih lain. Misalnya Zinedine Zidane di Real Madrid yang sempat jaya di Eropa. Namun kini nasib Zidane berada di persimpangan jalan, bahkan seringkali diisukan untuk dipecat.

Kemudian ada Antonio Conte pernah menjadi pemain Juventus dan kemudian menjadi pelatih mantan klubnya itu sejak Mei 2011. Sukses mempertahankan Juventus berada di jalur kemenangan, setelah musim sebelumnya, pelatih Luigi Delneri membawa Juventus ke tangga juara setelah sempat terpuruk sejak kasus Calciopoli.

Diego Simeone juga menjadi pelatih untuk mantan klubnya, Atletico Madrid. Kalau mau dibilang sukses besar tidak juga. Satu kali juara La Liga, sempat menjadi kampiun Liga Eropa 2018, dua kali runner-up Liga Champions, pencapaian itu belum cukup untuk memasukkan nama Simeone sebagai pelatih sukses. Tapi naif juga jika dianggap pelatih gagal. Apalagi sekarang Atletico Madrid sedang jaga asa menjadi juara La Liga.

Baca juga:  Saling Kudeta Klasemen di Liga Premier Inggris

Baca juga: Frank Lampard Dipecat, Resiko Kerasnya Persaingan Liga Inggris

Yang gagal itu, seperti nama-nama Gattuso, Inzaghi, Seedorf. Mereka semua pernah menjadi bintang di AC Milan. Status kebintangannya tak bisa membawa AC Milan keluar dari tahun-tahun kegelapan. Jangankan juara, bersaing untuk dapat tempat di zona Liga Champions itu sukar. Maradona pun bahkan dipecat jadi pelatih Argentina setelah terpuruk di Piala Dunia 2010. Padahal kurang bintang apa Maradona di Argentina?

Catatan ini menegaskan bahwa status bintang: legenda klub sekalipun tidak ada jaminan bakal menjadi pelatih sukses untuk mantan klubnya. Akan tetapi beberapa tahun belakangan, seperti sudah menjadi tren bagi klub-klub besar di Eropa menunjuk mantan pemainnya untuk menjadi pelatih.

Baca juga: Liverpool Mulai Bangkit?

Ada Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United. Andrea Pirlo di Juventus. Ronald Koeman untuk Barcelona. Teranyar Mauricio Pochettino di PSG. Selain nama-nama itu, tentu yang paling banyak dibicarakan sejak awal adalah Lampard sebagai pelatih Chelsea.

Terlepas dari status pemain bintang, mempersembahkan beragam gelar untuk Chelsea, hingga menjadi top skor sepanjang masa klub. Apa sih prestasi terbaik Lampad sebagai pelatih? Hanya mentok membawa Derby County ke babak play off, namun lajunya untuk promosi ke Liga Utama Inggris digagalkan Aston Villa.

Anehnya pencapaian minim ini, seolah pencapaian besar di mata petinggi Chelsea. Modal itu doang dibuatlah sebuah perjudian, Lampard harus diberi kesempatan untuk menangani Chelsea setelah mendepak Maurizio Sarri, padahal baru membawa Chelsea juara Liga Eropa.

Perjuadian yang betul-betul gila. Makanya banyak yang membicarakan tentang itu. Di balik harapan besar Roman Abramovich terhadap Lampard untuk mengangkat performa Chelsea bisa bersaing di tangga juara, ada pesimisme publik kalau Lampard tidak akan bisa menjawab kepercayaan itu.

Baca juga:  Badai di Pusaran Liverpool

Terlebih musim pertamanya, Chelsea mendapat hukuman larangan melakukan transfer pemain. Satu musim penuh bersama Chelsea, Lampard hanya bisa menggunakan pemain warisan pelatih sebelumnya. Hasilnya tanpa tropi, finalis FA Cup, mengakhiri musim dengan finis di peringkat keempat.

Ada yang menganggap pencapaian itu sudah baik, dan bisa lebih baik lagi seandainya Lampard bisa mendatangkan pemain-pemain yang diinginkan ke Chelsea. Tapi tidak sedikit pula orang-orang tetap meragukannya. Dengan menggunakan pemain yang sama, tidak bisa semena-mena dianggap Lampard lebih baik daripada Maurizio Sarri.

Lampard masih perlu membuktikan kualitasnya sebagai pelatih yang betul-betul mumpuni. Dan musim ini seharusnya menjadi kesempatan terbaik untuk membuat Chelsea bersaing di papan atas Liga Inggris. Apalagi Chelsea telah bebas dari hukuman larangan melakukan transfer.

Petinggi klub menyokong dana besar untuk mendatangkan pemain. Pada akhirnya kita melihat banyak nama-nama baru: Werner, Havertz, Ziyech hingga Thiago Silva.

Dengan adanya pemain baru ini, Chelsea seharusnya tidak ada masalah lagi soal kedalaman skuad. Makanya digadang-gadang bakal menjadi penantang serius Liverpool dan Manchester City memperebutkan tahta Liga Inggris. Bahkan disinyalir Chelsea bisa berbicara banyak di pentas Eropa.

Terlepas dari keberhasilannya membawa Chelsea lolos ke babak 16 besar berstatus juara grup pula, apa yang bisa dilakukan Lampard di liga domestik? Chelsea mengawali kampanye Liga Inggris 2020/2021 memang sempat mengalami kesulitan, tapi semakin ke sini semakin membaik, sulit terkalahkan sehingga sempat bercokel di puncak klasemen.

Begitulah potret Chelsea setidaknya sebelum Desember. Chelsea yang sekarang anomali dari pencapaian baik itu. Dari 10 pertandingan terakhir di Liga Inggris, Chelsea hanya mampu meraih kemenangan sebanyak 3 kali, 2 hasil imbang dan 5 kali menelan kekalahan.

Baca juga:  Magis Seorang Ibu: Ronaldo ke Sporting?

Wajarlah jika Roman Abramovich kecewa. Namun tak harus menyesalinya, apa yang terjadi pada Chelsea saat ini adalah buah daripada keputusan impulsifnya sendiri, menunjuk Lampard notabene pelatih belum berpengalaman.

Makanya tidak begitu mengherankan dari rentetan hasil buruk yang diperoleh Chelsea, pada akhirnya Lampard resmi dipecat oleh manajemen klub. Dengan meninggalkan data statistik yang mengecewakan. Dilansir dari transfermarkt, Lampard hanya mampu mendulang 1.75 poin dari 84 pertandingan yang dilakoni, nir gelar. Tidak mampu memberdayakan pemain bintangnya. Werner yang gemilang di RB Leipzig melempem di bawah asuhan Lampard. Demikian halnya Havertz sejauh ini masih dalam kesulitan.

Apakah pemecatan Lampard di minggu-minggu padat begini sudah merupakan langkah yang tepat? Di satu sisi mungkin iya, mengingat Chelsea betul-betul terseok-seok. Tapi di sisi lain tidak ada jaminan juga dengan didatangkannya pelatih baru, Chelsea akan bisa segera bangkit dari keterpurukan.

Isu yang berembus, Thomas Tuchel akan menjadi sukseor Lampard di Chelsea. Apakah bukan perjudian baru bagi Roman Abramovich yang memecat Lampard kemudian digantikan oleh pelatih yang belum lama dipecat PSG? Menarik untuk ditunggu, bagaimana Chelsea kedepannya.

Mawan Belgia
Facebook


Penulis fiksi dan penggemar fanatik Liverpool sekaligus penggemar berat Raisa.

Anda suka menulis tentang sepakbola, kirim tulisanmu ke AnalisBola.com dan baca ketentuannya di SINI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *