Juventus Kembali Memasuki Era Renaissance

Juventus Kembali Memasuki Era Renaissance
Juventus Bersiap Kembali Memasuki Periode Tergelapnya setelah Penampilan Buruk Mereka dalam Dua Musim Terakhir (Sumber : calciomercato.com)

Pada menit ke-40 dalam pertandingan antara tuan rumah Monza melawan Juventus yang berlangsung di Stadio Brianteo pada hari Minggu (18/9/2022), wasit memberikan kartu merah kepada Angel Di Maria.

Rekrutan baru Juventus asal Argentina tersebut menyikut dada bek tuan rumah, Armando Izzo yang membuatnya diusir wasit di waktu lima menit sebelum babak pertama berakhir.

Juventus akhirnya harus bermain dengan sepuluh orang dan membuat mereka gagal mencetak gol. Si Nyonya akhirnya harus menelan kekalahan dengan skor 0-1 setelah striker tuan rumah asal Denmark, Christian Gytkjær mencetak gol kemenangan Monza di menit ke-74.

Hasil tersebut membuat Juventus mengalami kekalahan perdananya di Serie A. Hal yang lebih memilukan adalah mereka harus tumbang melawan klub promosi yang secara kualitas kalah jauh dibandingkan Juventus.

Bacaan Lainnya

Kekalahan ini juga memperpanjang puasa kemenangan Juventus dalam lima laga beruntun melawan Fiorentina (1-1), PSG (1-2), Salernitana (2-2), Benfica (1-2), dan terakhir adalah Monza (0-1).

Juventus harus tertahan di peringkat ke-8 klasemen sementara Serie A dengan hanya meraih dua kemenangan, empat hasil imbang, dan satu kekalahan yang membuat mereka baru memperoleh 10 poin.

Di liga Champions, Juventus telah menelan dua kekalahan beruntun dari dua laga awal melawan PSG dan Benfica dengan skor yang sama yaitu 1-2 dan membuat mereka terancam tersingkir dari kompetisi antar klub tertinggi di benua Eropa tersebut.

Kedatangan deretan pemain baru seperti Di Maria, Bremer, Pogba, Kostic, Milik, dan Paredes sama sekali tidak membantu mengangkat performa Si Nyonya Tua yang sudah tampil buruk sejak musim lalu.

Baca juga:  AC Milan vs Juventus 2-0: Rossoneri Semakin Benamkan Si Nyonya Tua

Pada musim 2021/22, Juventus gagal meraih satupun gelar untuk pertama kalinya sejak 11 tahun yang lalu dan harus finish di peringkat ke-4 klasemen akhir Serie A. Tampaknya, situasi buruk tersebut akan kembali terulang di musim ini.

Hasil buruk ini membuat Massimiliano Allegri seketika menjadi sorotan. Comeback keduanya bersama Juventus tampaknya menjadi sesuatu yang menyedihkan bagi pelatih berusia 55 tahun tersebut.

Gerakan tagar #AllegriOut yang disuarakan oleh seluruh fans Juventus semakin bergelora di media sosial agar mantan pelatih AC Milan tersebut segera lengser dari kursi kepelatihan.

Padahal, Allegri pernah menjadi pahlawan besar Juventus dengan mengantarkan klub tersebut meraih lima gelar Scudetto secara beruntun dari tahun 2015 hingga 2019. Selain itu, Allegri juga dua kali membawa Juventus menembus final liga Champions pada tahun 2015 dan 2017.

Kepergian Ronaldo, Dybala, dan Chiellini disinyalir menjadi penyebab utama terpuruknya Juventus di musim ini mengingat ketiga pemain tersebut berperan penting dalam membawa Si Nyonya Tua meraih berbagai trofi.

Rentetan hasil buruk yang dialami dalam dua musim terakhir membuat Juventus seolah-olah kembali memasuki era Renaissance, sebuah istilah dari jaman kegelapan yang pernah melanda benua Eropa di abad pertengahan.

Era Renaissance tersebut juga pernah melanda Juventus ketika mereka harus terdegradasi ke Serie B di musim 2006/07 karena skandal pengaturan skor atau disebut dengan Calciopoli.

Meski berhasil promosi ke Serie A di musim berikutnya, periode buruk Juventus terus berlanjut dengan gagal meraih trofi selama tiga musim beruntun dari tahun 2009 hingga 2011.

Kini, Juventus seolah bersiap diri untuk kembali memasuki periode tersebut setelah sempat meraih kesuksesan besar dari tahun 2012 hingga 2021.

Baca juga:  Selalu Menang dalam 2 Pekan, Pirlo Temukan Ritmenya di Juventus?

Sekarang siapakah yang patut disalahkan dari bencana buruk Juventus dalam dua musim terakhir? Allegri, pemain Juventus atau deretan petinggi klub yang melakukan kesalahan dalam membuat kebijakan klub?

Christopher
Pemerhati & Penganalisis Taktik serta Filosofi Sepakbola

Anda suka menulis tentang sepakbola, kirim tulisanmu ke AnalisBola.com dan baca ketentuannya di SINI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *