Hansi Flick, Sang Penyelamat Filosofi Timnas Jerman

Hansi Flick, Sang Penyelamat Filosofi Timnas Jerman
Hansi Flick Menjadi Penyelamat Timnas Jerman dari Periode Kegelapan (Sumber : africatopsports.com)

Timnas Jerman bermain imbang dengan skor 3-3 melawan tuan rumah Inggris pada pertandingan terakhir grup C UEFA Nations League di Wembley (27/9/2022).

Meskipun harus bermain di hadapan puluhan ribu suporter lawan, timnas Jerman sama sekali tidak gentar dengan “teror” tersebut.

Der Panzer sempat unggul dengan skor 2-0 melalui gol penalti Ilkay Gundogan di menit ke-52 dan Kai Havertz di menit ke-67.

Meski demikian, timnas Jerman sempat kebobolan tiga gol oleh pemain tuan rumah dari menit ke-71 hingga 83.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi, timnas Jerman tidak menyerah begitu saja dan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3 melalui Kai Havertz yang kembali mencetak gol keduanya di menit ke-87.

Hasil imbang tersebut membuat Der Panzer dipastikan gagal lolos ke semifinal UEFA Nations League karena mereka finish di peringkat ketiga dengan perolehan tujuh poin.

Kekalahan di kandang sendiri melawan timnas Hungaria dengan skor 0-1 tampaknya menjadi penyebab kegagalan timnas Jerman untuk melangkah ke babak empat besar.

Terlepas dari hasil mengecewakan tersebut, Hansi Flick sebagai sang pelatih sepatutnya layak mendapatkan apresiasi dari kinerjanya selama setahun ini.

Hasil imbang 3-3 melawan timnas Inggris dan kemenangan atas timnas Italia dengan skor telak 5-2 di babak grup C tampaknya menjadi bukti bahwa Flick telah mengembalikan filosofi dan kekuatan sepakbola Der Panzer yang sebenarnya.

Hansi Flick sendiri terpilih menjadi pelatih utama timnas Jerman pada 1 Agustus 2021 untuk menggantikan Joachim Low yang masa pengabdianya berakhir setelah 15 tahun lamanya.

Flick sendiri merupakan mantan asisten Joachim Low di timnas Jerman dari tahun 2006 hingga 2014, dimana dirinya menjadi salah satu aktor dibalik keberhasilan Der Panzer menjuarai Piala Dunia 2014 di Brazil.

Baca juga:  Sepakbola Olimpiade 2020: Brasil Gasak Jerman

Sepeninggalan Flick, timnas Jerman sempat mengalami periode kegelapan yang cukup mengerikan. Pada Piala Dunia 2018, Der Panzer yang merupakan juara bertahan justru tersingkir di babak grup, bahkan mereka kalah dengan skor 0-2 melawan timnas Korea Selatan yang saat itu dilatih Shin Tae Yong.

Bencana tersebut berlanjut pada Euro 2020 dimana langkah timnas Jerman harus terhenti di babak 16 besar setelah dikalahkan timnas Inggris. Pada babak grup, penampilan Der Panzer juga cukup mengecewakan dengan meraih satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan.

Kini dengan kembalinya Flick, timnas Jerman seperti kembali menemukan filosofi-nya yang terkenal dengan sepakbola menyerang, atraktif, dan kolektif.

Sebelum melatih Der Panzer, Flick sempat melatih Bayern Munchen selama dua musim dari tahun 2019 hingga 2021.

Pada musim pertamanya di 2019/20, Flick berhasil membawa Bayern meraih treble winner.

Hal yang fantastis adalah Die Bavarian menghancurkan Barcelona dengan skor telak 8-2 di babak perempat-final liga Champions. Total, tujuh trofi sudah disumbangkan Flick untuk Bayern.

Taktik dan gaya permainanya di Bayern tampaknya berhasil diterapkan kepada timnas Jerman selama satu tahun dirinya melatih.

Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan Flick menjadi faktor mengapa timnas Jerman tampil begitu baik dan agresif.

Berbeda dengan taktik gegenpressing, Flick lebih memilih pendekatan operan satu dua sentuhan dan aliran bola antar lini dengan cukup cepat melalui pergerakan serta skill individu yang mendukung.

Terlebih, skuad Der Panzer saat ini dihuni oleh deretan pemain muda dengan skill diatas rata-rata seperti Gnabry, Havertz, Sane, Musiala, dan Werner.

Nama-nama pemain muda yang disebutkan diatas dapat bekerjasama dengan deretan pemain senior timnas Jerman yang berpengalaman seperti Neuer, Rudiger, Hummels, Kimmich, Kroos, Muller, dan Gundogan.

Baca juga:  Segalanya Menjadi Bertambah Buruk untuk Ronaldo

Hal ini yang membuat Flick sempat berhasil membawa timnas Jerman tidak terkalahkan dalam 13 pertandingan.

Kekalahan melawan timnas Hungaria (24/9/2022) rupanya menjadi yang perdana untuk Flick setelah setahun melatih Der Panzer.

Jika dihitung dengan laga melawan Inggris semalam, maka Flick telah meraih sembilan kemenangan, lima hasil imbang, dan satu kekalahan.

Tentu saja ini menjadi modal yang cukup baik bagi Flick sebelum menghadapi Piala Dunia 2022 di Qatar yang akan berlangsung dua bulan lagi.

Jika konsisten, bukan hal yang mustahil apabila Flick bisa membawa Der Panzer meraih juara Piala Dunia untuk kelima kalinya.

Christopher
Pemerhati & Penganalisis Taktik serta Filosofi Sepakbola

Anda suka menulis tentang sepakbola, kirim tulisanmu ke AnalisBola.com dan baca ketentuannya di SINI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *