Era Kejayaan Barcelona Siap Kembali?

Era Kejayaan Barcelona Siap Kembali ?
Lewandowski dan Raphinha diharapkan menjadi senjata mematikan Barcelona (Sumber : football-espana.net)

Apakah era kejayaan Barcelona siap kembali? Ini adalah sebuah pertanyaan untuk seluruh fans Barcelona dan penikmat sepakbola di seluruh dunia. Barcelona yang pernah menjadi tim paling menakutkan selama 1 dasawarsa terakhir, sempat berada dalam era kegelapan yang membuat semua terheran-heran dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan klub asal Catalan tersebut.

Musim 2019-2020 mungkin dapat dikenang sebagai musim terburuk dalam sejarah panjang Barcelona. Diawali dengan konflik internal dalam klub yang berujung dipecatnya Ernesto Valverde dari kursi kepelatihan, puncak mimpi buruk Barcelona terjadi ketika mereka kalah 2-8 melawan Bayern Munchen di perempat-final Liga Champions tahun 2020. Ini menjadi kekalahan terbesar Barcelona setelah puluhan tahun lamanya. Di musim tersebut pula, Barcelona gagal meraih satu gelar pun.

Ditunjuknya Ronald Koeman pada awal musim 2020-2021 sempat diharapkan membawa kebangkitan Barcelona, mengingat karier Koeman yang cukup baik ketika melatih Ajax, Feyernoord, Southampton, Everton hingga Timnas Belanda. Namun kenyataannya, Barcelona justru menampilkan permainan inkosisten dan taktik yang tidak berjalan semestinya dibawah Koeman.

Baca juga :Tekad Umtiti Kembali Jadi Andalan Barcelona

Bacaan Lainnya

Musim 2021-2022 akhirnya menjadi akhir dari karir Koeman di Barcelona. Hengkangnya Messi ke PSG memang menjadi sumber masalah bagi Koeman dan Barcelona. Setelah Barca harus tersingkir dari babak grup Liga Champions dan kalah di Camp Nou dalam duel El Clasico melawan Real Madrid dengan skor 1-2, Koeman akhirnya dipecat setelah sebelumnya mendapat tekanan besar dari fans Barcelona untuk mundur. Meski begitu, Koeman masih patut berbangga karena dia berhasil mempersembahkan satu gelar Copa Del Rey kepada Barcelona.

Baca juga:  Preview El Clasico: Dua Raksasa Masih Sama Menata

Setelah Koeman dipecat, Barcelona menunjuk pemain legendanya yaitu Xavi Hernandez, untuk menjadi pelatih Barcelona. Saat itu, Xavi masih bestatus sebagai pelatih klub Qatar, Al Sadd. Dibawah Xavi, Al Sadd mampu menampilkan permainan tiki-taka dan kolektivitas yang cukup luar biasa seperti ketika era dimana Xavi dan Iniesta masih bermain untuk Barcelona.

Meski demikian, masih banyak yang meragukan apakah Xavi layak menjadi pelatih Barcelona. Namun, terpilihnya kembali Joan Laporta menjadi Presiden Barcelona, justru membawa angin segar bagi Xavi dan juga Barcelona.

Sempat terkeok-keok di pertandingan awal, Xavi mulai mampu menemukan ritme dan pola permainan yang kolektif di skuad Barcelona. Berawal dari transfer musim dingin ketika Xavi mendatangkan 4 pemain baru yaitu Aubameyang, Ferran Torres, Adama Traore hingga Dani Alves, Barcelona menjadi tampil sangat perkasa hingga akhir musim. Bahkan Barcelona berhasil mengalahkan Real Madrid dengan skor 4-0 di Santiago Barnebau pada tanggal 20 Maret 2022.

Barcelona berhasil finish di peringkat ke-2 dibelakang Real Madrid, setelah di pertengahan musim sempat terpuruk di peringkat ke- 7. Meski gagal mempersembahkan satu gelarpun untuk Barcelona, Xavi yang sebelumnya diragukan oleh banyak pihak, berhasil menjelma menjadi penyelamat Barcelona dari keterpurukan. Bahkan, banyak yang beranggapan bahwa Xavi akan mengikuti kesuksesan Guardiola saat melatih Barcelona.

Kini, sebelum musim 2022-2023 dimulai, Xavi dan jajaran direksi Barcelona berhasil mendatangkan Lewandowski dan Raphinha ke Camp Nou. Kedatangan Lewandowski pastinya diharapkan mampu menutup lubang yang ditinggalkan oleh Messi dan pastinya diharapkan bahwa Lewandowski turut andil dalam membawa kembali kejayaan Barcelona. Terlebih, Lewandowski selama berkarir di Jerman sudah memiliki 19 gelar kompetisi domestik dan 1 gelar liga Champions.

Baca juga:  Piala Super Jerman: Dua Gol Dortmund Tidak Sah, Bayern Bersorak

Tantangan terberat Xavi pastinya adalah menjaga stabilitas dan kondusifitas tim supaya kejadian yang terjadi dengan skuad Barcelona dibawah kepelatihan Ronald Koeman dan Valverde tidak terjadi lagi.

Christopher
Pemerhati & Penganalisis Taktik Serta Filosofi Sepak Bola

Anda suka menulis tentang sepakbola, kirim tulisanmu ke AnalisBola.com dan baca ketentuannya di SINI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *