Bursa Transfer Musim Dingin: Sunyi, Senyap dan Tanpa Suara

Transfer Musim Dingin
Pertandingan di musim dingin. (Foto: Simomot.com)

Beberapa liga di benua biru sudah menutup jendela transfer bagi kompetisi sepakbolanya. Tidak seperti musim musim sebelumnya dimana saat mendekati deadline day, atau penutupan jendela transfer pasti ada saja drama yang tersaji.

Seperti pemain yang tiba-tiba resmi di detik-detik terakhir penutupan bursa, sampai panic buying yang dilakukan beberapa klub karena keadaan mendesak.

Namun ada yang berbeda dengan aktivitas transfer pemain musim dingin tahun ini. Tidak banyak klub yang membeli amunisi baru Januari kemarin. Jadilah bursa transfer musim dingin tahun ini sepi peminat.

Setelah saya pantau dan analisis, setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan sepinya pergerakan transfer musim ini.

Bacaan Lainnya

1. Masalah Finansial

Sudah tidak perlu dibahas panjang lebar lah ya sama kasus yang satu ini. Hampir dari kita semua sudah paham betul hadirnya si Corona sungguh merubah tatanan dunia. Salah satunya adalah sepak bola.

Awalnya pihak klub masih bisa menerima penonton di stadion saat Corona mulai bertraveling keliling dunia. Mereka menyiasatinya dengan menempatkan desinfektan dan hand sanitizer di banyak titik bangku stadion.

Baca juga: Jesse Lingard, Pemain Muda Berbakat Spesialis Pemain Pinjaman

Tapi itu tidak berlangsung lama karena itu virus nglunjaknya bukan main. Terpaksa sejak bulan April tahun lalu kompetisi digelar tanpa penonton bahkan sempat dihentikan selama beberapa bulan.

Saat liga kembali digulirkan terbitlah regulasi jika stadion harus dikosongkan saat pertandingan, alias semua laga digelar tanpa penonton. Tentu hal tersebut menjadi kerugian yang amat besar bagi setiap klub. Pasalnya, uang kas klub yang bersumber dari tiket penonton tidaklah main-main jumlahnya. Bisa sampai trilyunan per musim.

Baca juga:  Arsenal Boros di Bursa Transfer, Jeblok di Liga Primer

Bisa dibayangkan satu tiket musiman Arsenal yang termurah dibanderol sebesar 1.014 poundsterling, atau sekitar 20 juta rupiah. Sementara yang termahal pernah menyentuh angka 2.013 poundsterling atau setara 40 juta rupiah. Coba kalikan dengan jumlah bangku di stadion yang berkisar 60.000 kursi. Sangat lumayan kan jika dipakai untuk menambah dana pembelian pemain baru.

Tidak hanya tiket penonton yang mengalami kelumpuhan karena pandemi. Penjualan merchandise original yang biasanya dijual oleh pihak klub di dalam stadion juga ikut sepi, tak seramai kondisi normal. Ya karena dampak beberapa negara melakukan lockdown dan penolakan terhadap turis asing yang biasa melarikan dagangan pernak-pernik mereka.

Itulah mengapa banyak dari klub sepak bola mengetatkan pengeluaran mereka untuk belanja pemain, lagi mode misqueen gengs. Finansial belum stabil. Wong gaji pemain mereka aja sempat mengalami pemotongan, jadi buat apa menambah beban keuangan dengan mendatangkan pemain baru?

2. Klub Penjual yang Mematok Harga Tinggi

Ini yang paling menyebalkan, sudah tahu kondisi sesama lagi pada susah duit eh malah nggak mau nurunin banderol harga pemainnya. Kasusnya masih sedikit relate dengan poin pertama.

Di saat banyak klub yang susah keuangan namun memerlukan amunisi baru untuk skuadnya, mereka pasti berharap jika klub penjual setidaknya akan memberikan potongan harga kepada pemain mereka untuk dilego. Oh ternyata tak segampang itu Ferguso.

Baca juga: Mengerling Transfer Musim Dingin Si Meteor, Bruno Fernandes

Banyak klub yang memanfaatkan situasi pandemi justru melambungkan harga pemain mereka untuk dijual. Sungguh tidak ada bentuk solidaritas sesama pelaku olahraga kulit bundar.

Untuk kasus seperti ini sebenarnya tidak bisa disalahkan juga jika klub penjual mematok harga tinggi untuk pemain pilar mereka. Lah wong mereka juga keadaannya kurang lebih sama, iya sama-sama lagi butuh duit buat bayar karyawannya woy. Jadi biar fair to fair ya pake pemain akademi aja udah, gratis nggak pake dipungut biaya transfer dan ongkir.

Baca juga:  Tampil Bagus lawan Arsenal, Arteta Kepincut Pemain Aston Villa ini

3. Susahnya Beradaptasi

Ini berlaku baik saat situasi pandemi maupun tidak. Kedatangan pemain di bursa transfer musim dingin memang sangat riskan dan cenderung dihindari. Salah satu alasannya ya karena si pemain kebanyakan akan sulit beradaptasi. Loh Bruno Fernandes langsung gacor bro? Iya itu Bruno, satu dibanding sekian. Coba seberapa banyak pemain yang pas dateng langsung nyetel kek dia? Lebih banyak yang flop kan?

Sulitnya pemain beradaptasi bisa terjadi karena dia tidak sempat merasakan pra-musim seperti yang biasa dilakukan saat libur musim panas. Tujuan pra-musim kan memang dipakai pelatih untuk menjajal beberapa pemain baru mereka bergabung dengan permainan pemain lama.

Jadi karena tidak adanya pra-musim di musim dingin, lumayan susah juga bagi mereka untuk mencocokkan diri dan gaya bermain dengan rekan barunya. Istilah gampangnya masih terbawa lah sama permainan dia bareng rekan di klub lamanya. Belum ditambah jika itu pemain mengalami culture shock. Makin nggak karuan jadinya.

4. Merusak Komposisi Tim

Jika tidak dalam situasi urgent atau darurat, mendatangkan pemain di bulan Januari memang amat tidak disarankan. Kenapa? Karena malah akan merusak ritme permainan bagi tim. Bukan apa ya, karena saat pemain datang tidak hanya dia saja yang harus menyesuaikan diri dengan rekan dan permainan baru.

Tapi pemain lama di klub juga harus bisa menyesuaikan diri dengan pemain yang baru datang tersebut, ditambah waktunya juga sangat singkat. Akan sulit untuk membangun kemistri antara satu dengan yang lainnya.

Itu belum termasuk jika si pemain baru banyak tingkah dan mendapatkan banyak privilege dari pihak klub. Seperti gaji besar contohnya. Ya semisal gaji besar tapi sebanding dengan kontribusi dia di lapangan mah tidak masalah.

Baca juga:  Penghijauan Inter Milan: Tambal-Sulam Lukaku & Dzeko

Tapi jika gaji dia besar namun jarang memberikan dampak nyata bagi tim, siap-siap ruang ganti akan panas. Itulah pentingnya pembelian pemain di musim dingin harus benar-benar diperhatikan, singkatnya waktu negosiasi harus bisa dimanfaatkan pihak klub untuk memberikan kontrak yang masuk akal tanpa merusak keharmonisan ruang ganti sebelumnya.

5. Waktunya Singkat

Bursa transfer musim dingin memang hanya dibuka kurang lebih satu bulan. Berbeda dari bursa musim panas yang mencapai tiga bulan, atau bahkan lebih?!

Jadi bagi kebanyakan klub memang akan merasa naggung jika membeli pemain baru di bulan Januari. Mereka berpikir mending sekalian saja nanti pas musim panas. Kecuali jika kesepakatan sudah hampir dicapai saat bursa musim panas, biasanya musim dingin dimanfaatkan untuk membahas kelanjutan dari negosiasi sebelumnya.

Baca juga: Manchester City Tolak David Alaba dan Berencana Datangkan Striker Baru

Kurun waktu satu bulan memang agak sulit untuk mendatangkan pemain baru. Bayangkan belum proses pemantauan, penyerahan proposal penawaran, negosiasi kontrak, dan segala hal rumit lainnya. Saat sudah deal sekalipun si pemain akan langsung menanggung beban berat untuk bisa cepat menyatu dengan tim barunya. Karena kebanyakan pemain yang datang saat musim dingin itu adalah dia yang diharapkan bisa menjadi kartu As bagi klub yang merekrutnya.

Lain halnya ya, transfer musim dingin diperlukan jika klub mengalami badai cedera sehingga mengharuskan mereka berburu pemain baru untuk menambal posisi yang ditinggalkan pemain lama. Itu masuk dalam keadaan darurat, jadi sah-sah saja.

Itulah mengapa transfer musim dingin tak seramai saat musim panas. Di waktu yang super singkat klub lebih memilih untuk tidak melakukan transfer saat musim dingin, tujuannya untuk menghindari keteledoran saat negosiasi dan kesepakatan kontrak supaya tidak terjadi panic buying.

Yunita Devika Damayanti
Instagram

***
Ingin menjadi kontributor di AnalisBola.com, Silakan hubungi kami melalui email: analisbolacom@gmail.com

Anda suka menulis tentang sepakbola, kirim tulisanmu ke AnalisBola.com dan baca ketentuannya di SINI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *